Misi

Blended Learning adalah teknologi pembelajaran modern dengan menerapkan prinsip flexiblity Learning, dengan tujuan mahasiswa dapat belajar, memperoleh informasi, berdiskusi, mengirim tagihan, serta dapat berkomunikasi dengan dosen, antar mahasiswa, dan publik secara luwes tanpa kendala waktu dan ruang.

Jumat, 28 Desember 2012

Alasan Manusia Beragama

ALASAN MANUSIA BERAGAMA

Oleh  Asmuni Syukir

Ketika mahasiswa ditanya, mengapa Anda beragama Islam? Sebagian besar dari mereka menjawab, karena ibu-bapak dan kakek-nenek kami beragama Islam. Tetapi sebagian lainnya ada pula yang menjawab, karena hanya agama Islam lah agama yang benar dan dan diridhai Allah. Terhadap jawaban yang terakhir ini, biasanya penulis (dosen pembina matakuliah agama Islam) berkomentar, ”Ya, karena Anda pemeluk agama Islam, bagaimana kalau Anda beragama selain Islam?”.

Berangkat dari pengalaman inilah maka perlu dipaparkan jawaban dari pertanyaan, ”mengapa manusia beragama?” dari sudut pandang yang lebih luas dan argumentasi yang rasional dan faktual.
     
Fitrah Manusia

Manusia adalah satu spesies yang unik dan istimewa dibanding jenis makhluk lainnya, karena manusia tercipta dari unsur jasmani (materi) dan unsur ruhani (immateri). Dari unsur jasmani, manusia tidak lebih dari hewan, bahkan lebih lemah darinya. Sedang kelebihan manusia terletak pada unsur ruhani, yang mencakup hati dan akal. Tetapi akal itu pada mulanya berupa potensi yang masih harus difaktualkan dan ditampakkan. Oleh karena itu dengan akalnya, manusia yang lemah secara fisik, dapat menundukkan dan memanfaatkan segala yang ada di bumi dan di langit untuk kepentingannya. Bahkan karena unsur inilah Allah menciptakan segala yang ada di bumi dan langit untuk manusia. Tetapi jika manusia tidak berusaha memfaktualkan dan menampakkan potensinya itu atau memfaktualkan hanya untuk pemuasan tuntutan hewaninya, maka manusia tak ada bedanya dengan binatang, bahkan lebih hina daripada binatang.

Selain hati dan akal, manusia juga memiliki fitrah (yang juga termasuk unsur ruhani), yaitu kecenderungan atau naluri yang melekat pada diri manusia dan terbawa sejak kelahirannya. Fitrah inilah yang menjadi modal terbesar bagi manusia untuk maju dan sempurna. Syahid Muthahhari, dalam kitab Fithrah, edisi bahasa Persia, menyebutkan ada lima macam fitrah dalam diri manusia, yaitu mencari kebenaran (haqiqat), condong kepada kebaikan, condong kepada keindahan, berkarya (kreatif), dan cinta (isyq) atau menyembah (beragama). Adapun siapa atau apa yang pantas dicintai dan disembah bukanlah bagian dari fitrah itu melainkan tugas akal yang dapat menentukannya.

Menurut Quraish Shihab (2001), agama yang diwahyukan Tuhan, benihnya muncul dari pengenalan dan pengalaman manusia pertama di pentas bumi. Di sini ia memerlukan tiga hal, yaitu keindahan, kebenaran, dan kebaikan. Gabungan ketiganya dinamai suci. Manusia ingin mengetahui siapa atau apa Yang Mahasuci, dan ketika itulah dia menemukan Tuhan, dan sejak itu pula ia berusaha berhubungan dengan-Nya bahkan berusaha untuk meneladani sifat-sifat-Nya. Usaha itulah yang dinamai beragama, atau dengan kata lain, keberagamaan adalah terpatrinya rasa kesucian dalam jiwa seseorang. Karena itu seorang yang beragama akan selalu berusaha untuk mencari dan mendapatkan yang benar, yang baik, lagi yang indah.

Oleh karena itulah dalam pandangan Islam, keberagamaan itu juga merupakan fitrah, yang sesuai dengan blue print penciptaan manusia. Hal ini dapat dipahami dari al-Qur’an: ”Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Qs. ar Rûm 30).

Kebutuhan Azasi Manusia

Ayat di atas sekaligus menginformasikan bahwa manusia tidak dapat melepaskan diri dari agama, karena agama adalah kebutuhan hidupnya. Kendatipun sebagian orang masih ada yang mengabaikan agama, tetapi bukan berarti ia sama sekali tidak membutuhkan agama, apalagi untuk selama-lamanya.

Menurut teori Maslow, pemenuhan kebutuhan manusia itu berjenjang. Artinya, bahwa kebutuhan manusia itu dalam batas-batas tertentu masih dapat ditangguhkan. Kebutuhan air minum dapat ditangguhkan lebih lama dibanding kebutuhan oksigen. Sedang kebutuhan makanan tidak bisa ditangguhkan lebih lama dibanding kebutuhan seksual, apalagi kebutuhan agama yang memang bukan syarat kelangsungan hidup manusia, maka boleh jadi penundaannya sampai dengan menjelang kematiannya, walau terkadang sudah terlambat karena ajal sedang menjemputnya.

Seperti ketika terjadi konfrontasi antara ilmuwan di Eropa dengan Gereja, ilmuwan meninggalkan agama, tetapi tidak lama kemudian mereka sadar akan kebutuhan kepada pegangan yang pasti, dan ketika itu, mereka menjadikan "hati nurani" sebagai alternatif pengganti agama. Namun tidak lama kemudian mereka menyadari bahwa alternatif ini sangat labil, karena yang dinamai nurani terbentuk oleh lingkungan dan latar belakang pendidikan, sehingga nurani Si A dapat berbeda  dengan Si B, dan dengan demikian tolok ukur yang pasti menjadi sangat rancu. Maka setelah itu lahirlah filsafat eksistensialisme, yang mempersilahkan manusia bebas melakukan apa saja yang dianggapnya baik, atau menyenangkan tanpa mempedulikan nilai-nilai. Namun itu semua tidak dapat menjadikan agama tergusur, karena ia tetap ada dalam diri manusia, walaupun keberadaannya kemudian tidak diakui oleh kebanyakan manusia itu sendiri.

Will Durant, seorang pemikir anti agama, juga pernah mengatakan, “Agama memiliki seratus jiwa. Segala sesuatu jika telah dibunuh pada kali pertama akan mati untuk selamanya, kecuali agama. Seratus kali dibunuh, agama akan muncul lagi dan kembali untuk selamanya” (Utsman, 2004). Ungkapan ini mengisyaratkan bahwa agama merupakan bagian tak terpisahkan dari manusia.

Bahkan dalam lintasan sejarah pun agama selalu menjadi teman setia mendampingi sejarah umat manusia (Utsman, 2004). Hal ini juga diyakini oleh Sosiolog Peter L. Berger,  bahwa agama adalah sacred canopy yang sampai kapanpun akan melindungi manusia dari chaos. Agama baginya merupakan semesta simbolik yang selalu memberi makna pada kehidupan manusia, dan karena itu agama akan selalu dibutuhkan sampai kapan saja (Sasongko, 2004).

Karena itulah William James menegaskan bahwa: “Selama manusia masih memiliki naluri cemas dan mengharap, selama itu pula ia beragama (berhubungan dengan Tuhan)”. Itulah sebabnya mengapa perasaan takut merupakan salah satu dorongan yang terbesar untuk beragama (Shihab, 2001).  

Di samping itu, kebutuhan manusia tidaklah terbatas pada materi (jasmaniyah) melainkan juga non-materi (ruhaniyah). Maka tanpa pelibatan domain agama, tidak semua kebutuhan ruhani bisa dipenuhi, sekalipun domain ilmu dan teknologi, serta seni dan filsafat, semakin berkembang dan maju pesat. Sebab, semua domain itu ada wilayahnya masing-masing.

Ilmu mempercepat Anda sampai ke tujuan, 
agama menentukan arah yang dituju.
Ilmu menyesuaikan manusia dengan lingkungannya, 
agama menyesuaikan dengan jati dirinya.
Ilmu hiasan lahir, agama hiasan batin.  
Ilmu memberi kekuatan dan menerangi jalan, 
agama memberi harapan dan dorongan bagi jiwa.
Ilmu menjawab pertanyaan yang dimulai dengan ”bagaimana”, 
agama menjawab yang dimulai dengan ”mengapa”.
Ilmu tidak jarang mengeruhkan pikiran pemiliknya, 
agama selalu menenangkan jiwa pemeluknya yang tulus. (Shihab, 2001).

Demikian Murtadha Muthahhari menjelaskan sebagian fungsi dan peranan agama dalam kehidupan ini,yang tidak mampu diperankan oleh ilmu dan teknologi. Bukankah kenyataan hidup masyarakat Barat telah membuktikan hal tersebut? 

Sadarilah bahwa tidak semua persoalan bisa diselesaikan atau bahkan dihadapi oleh akal. Karya seni, misalnya, tidak dapat dinilai semata-mata oleh akal, karena yang lebih berperan di sini adalah kalbu. Kalau demikian, keliru apabila seseorang hanya mengandalkan akal semata-mata. Akal itu bagaikan kemampuan berenang. Akal berguna saat berenang di sungai atau di laut yang tenang, tetapi bila ombak dan gelombang telah membahana, maka yang pandai berenang dan yang tidak bisa berenang sama-sama membutuhkan pelampung. Jika demikian, maka tidak ada alternatif lain yang dapat menggantikan agama.

Kodrat Manusia sebagai Makhluk Sosial

Secara kodrati manusia adalah makhluk sosial, dan diakui sebagai makhluk yang amat mulia. Ia pun diberi kelebihan atas banyak makhluk-makhluk yang lain, tetapi sebagian kelebihan dan keistimewaannya (material dan immaterial) diperoleh melalui bantuan orang lain. Keuntungan material, tidak dapat diraihnya tanpa partisipasi masyarakat dalam membeli bagi pedagang, dan adanya irigasi bagi petani, serta stabilitas keamanan bagi semua pihak, yang tidak bisa diwujudkan hanya seorang diri.
Dengan kata lain, manusia tidak akan bisa hidup sendirian tanpa bantuan dari yang lain, terutama dalam memenuhi hajat hidup masing-masing. Tetapi praktiknya dalam memenuhi hajat hidup itu sangat rentan terjadinya ’benturan-benturan’ satu sama lain. Kalau demikian, wajar jika hak azasi harus dikaitkan dengan kepentingan masyarakatnya serta ketenangan orang banyak.

Adapun pandangan Barat yang menyatakan: "Anda boleh melakukan apa saja selama tidak melanggar hak orang lain", jelas tidak realistis. Kenyataannya memanglah demikian. Sepanjang sejarah kehidupan manusia hingga sekarang pun yang namanya ’kejahatan’ dengan segala bentuk dan motifnya, baik terhadap sesama manusia ataupun terhadap alam, belum pernah berhenti.

Karena itulah dalam kehidupan sosial sangat diperlukan adanya norma-norma yang mengatur hak dan kewajiban masing-masing. Sedangkan peraturan yang dianggap paling memadai untuk hal itu adalah agama, karena hanya agamalah yang mampu mengikat setiap manusia secara tulus untuk tunduk dan patuh terhadap aturan sosial.

Dalam agama Islam, misalnya, mengajarkan bahwa Islam tidak menghalangi umatnya untuk memperoleh kekayaan sebanyak mungkin. Bahkan harta yang banyak dinamainya khair (baik) dalam arti perolehan dan penggunaannya harus dengan baik. Islam juga tidak melarang umatnya bersenang-senang di dunia, hanya digarisbawahinya bahwa kesenangan duniawi bersifat sementara, dan karena itu jangan sampai ia melengahkan dari kesenangan abadi, atau melengahan dari kewajiban kepada Allah dan masyarakat. Umat Islam diperkenalkan oleh Al-Quran sebagai ummattan wasathan (umat pertengahan) yang tidak larut dalam spiritualisme, tetapi tidak juga hanyut dalam materialisme. Seorang Muslim, adalah manusia yang memenuhi kebutuhannya dan mewarnai kehidupannya bukan ala malaikat, tetapi tidak juga ala binatang. Seperti hubungan seks pun dibenarkannya, tetapi karena manusia adalah makhluk terhormat, yang terdiri dari jasmani dan ruhani, maka hubungan seks tersebut harus terjadi hubungan lahir dan batin, karena itu ia harus dikukuhkan atas nama Tuhan, melalui perkawinan yang sah menurut agama (Shihab, 2001). 

Bayangkan jika di muka bumi ini tidak ada agama, dan manusia pun tiada yang beragama, maka sudah pasti kehidupan sosial akan semakin kacau, tak ubahnya kehidupan binatang di hutan belantara. Karena itulah umat beragama mempunyai alasan yang cukup urgen, mengapa mereka beragama. Demikian juga mengapa kita beragama Islam, tentu memiliki alasan seperti di atas di samping alasan-alasan lain yang lebih bersifat urgen dan kasuistis. ***

6 komentar:

ahmad mujahidin mengatakan...

mausia untuk beragama,tapi pada zaman sekarang kenyataannya agama itu hanya dijadikan simbol.contohnya banyak pelanggaran,seperti sex bebas,itu sudah sering terjadi,bagaimana pandangan beragama tentang masalah tsb?

Eko Januar mengatakan...

Eko Januar Pribadi, 123135, jika religion as mind (simbol) ya mereka hanya dapat simbolnya, tetapi jika agama terseut didalami secara utuh insya Allah tidak ada penyimpangan norma dan sosial.

ASMUNI SYUKIR mengatakan...

Karena itulah manusia membutuhkan agama. Jika ia melanggar etika, dan menjalankan sifat kebinatangannya, jelas mereka sesungguhnya tidak membutuhkan agama. Memang mereka beragama tapi hanya kepura-puraan belaka. Atau mungkin menurut mereka, agama justru membelenggu kebebasan mereka.

ahmad mujahidin mengatakan...

Ahmad Mujahidin, 123143, berarti sifat kebinatangan manusia itu alamiah ada atau tidak pak?

ASMUNI SYUKIR mengatakan...

kodrati. Hanya manusia yang bisa mengelolanya yang akan berderajat mulia, tidak sama dengan binatang

Retno Sugiarti mengatakan...

Retno sugiarti,123166,
jadi Jika kita renungkan, agama tampaknya merupakan fenomena paling membingungkan dalam kehidupan umat manusia. Dengan spirit agama, umat manusia bisa melambung ke puncak kemanusiaannya dengan mengkekspresikan segenap kemuliaan, cinta kasih, pengorbanan, dan berbagai sikap lain yang sangat mengesankan. Namun, pada saat yang sama, agama acapkali menjadi sumber keributan paling spektakuler di muka bumi: atas nama agama orang bisa berperang bahkan saling menghancurkan.